Permasalahan Remaja dan Solusinya

 

 

A. Perkembangan Remaja

          Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang banyak menarik perhatian, karena sifat-sifat khas dan peranannya yang menentukan dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Ditinjau dari sisi psikologis, hakikat utama masa remaja adalah menemukan jati dirinya sendiri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba- coba yang baru menuju pribadi yang dewasa (Ahmadi, 1997:41).
1. Pengertian Perkembangan
      Berikut merupakan pengertian perkembangan yang dikemukakan olehe beberapa ahli, yaitu:
a. Prof. Dr. F.J. Monks, dkk mengartikan perkembangan sebagai suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat terulang kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar
b. Desmita mendefinisikan perkembangan tidak terbatas pada pengertian perubahan secara fisik, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan, melalui pertumbuhan dan belajar (Desmita, 2005:4). c. Menurut Harlimsyah perkembangan adalah segala perubahan yang terjadi. Pada individu dilihat dari berbagai aspek antara lain aspek fisik (motorik). cmosi, kognitif, dan psikososial.
d. Menurut Zein perkembangan merupakan perubahan-perubahan psiko, fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam masa waktu tertentu menuju kedewasaan (digilib.unimus.ac.id). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan merupakan suatu proses perubahan individu baik fisik, psikis, dan kognitifnya menuju kedewasaan yang terjadi seumur hidup.
2. Teori-teori Perkembangan Remaja
       Perkembangan remaja bersifat kompleks dan mempunyai banyak sisi. Walaupun tidak ada satu teori pun yang mampu menjelaskan semua aspeke perkembangan remaja, setiap teori telah memberikan sumbangan penting tentang pemahaman tentang perkembangan remaja ini. Ada empat teori utama mengenai perkembangan remaja yaitu psikoanalisis, kognitif, belajar sosial dan tingkaha laku, serta teori ekologi (Santrock, 2003:42),
a. Teori Psikoanalisis
             Bagi ahli psikoanalisis, perkembangan terutama tidak disadari. Artinya di luar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi. Mereka percaya bahwa tingkah laku hanyalah ciri permukaan, dan untuk betul-betul memahami perkembangan kita harus mengaalisis arti simbolik tingkah laku dan kerja pikiran yang terdalam. Dua teori psikoanalisis penting adalah dari Freud dan Erikson. Freud mengatakan bahwa kepribadian terdiri dari tiga struktur yaitu id, ego, dan superego. Tuntutan yang saling bertentangan dari struktur kepribadian remaja menimbulkan rasa cemas. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena pengalaman di masa kecil. la mengatakan bahwa individu melalui lima tahap psikoseksual yaitu oral, anal, falik, latensi, dan genital. Erikson mengembangkan teori yang menekankan delapan tahap perkembangan psikososial yaitu percaya vs tidak percaya, otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu, inisiatif vs rasa salah, industry vs inferioritas, identitas vs kekacauan identitas, intimasi vs isolasi, generativitas vs stagnasi, dan integritas vs rasa putus asa.
b. Teori Kognitif
          Bila teori-teori psikoanalisis menekankan pentingnya pikiran remaja yang tidak disadari, maka teori-teori kognitif mementingkan pikiran-pikiran sadar mereka. Dua teori kognitif yang penting adalah teori perkembangan kognitif dari piaget dan teori pemrosesan informasi. Piaget mengatakan bahwa remaja termotivasi untuk memahami dunia dan menyesuaikan berpikimya untuk mendapatkan informasi baru. Piaget mengatakan bahwa kita melalui empat tahap perkembangan kognitif: sensorimotorik, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal. Teori pemrosesan informasi berkaitan dengan bagaimana individu memproses informasi tentang dunianya, mengeni bagaiman informasi masuk ke dalam pikiran remaja, bagaimana informasi disimpan dan ditranformasi.
c. Teori Tingkah Laku dan Belajar Sosial
         Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidaklah penting dalam memahami tingkah laku remaja. Menurut B.F. Skinner (seorang ahli tingkah laku yang terkenal) perkembangan adalah tingkah laku yang diobservasi, yang ditentukan oleh ganjaran dan hukuman dalam lingkungan. Teori belajar sosial, dikembangkan olch Albert Bandura dan lainnya, menyatakan bahwa lingkungan merupakan determinan tingkah laku yang penting, tetapi begitu pula proses kognitif. Menurut pandangan teori belajar sosial, remaja mempunyai kemampuan untuk mengontrol tingkah laku mereka sendiri.
d. Teori Ekologi
           Uric Bronfenbrenner mengusulkan pandangan tentang perkembangan anak yang sangat berorientasi pada lingkungan, yang sekarang mendapat perhatian. Teori ekologi adalah pandangan perkembangan sosial-kultural yang terdiri dari lima sistem lingkungan yang berkisar dari masukan kecil dari interaksi langsung dengan agen sosial sampai pada masukan dari budaya. Kelima sistem dalam teori Bronfenbrenner adalah sistem mikro, sistem meso, sistem ekso, sistem makro, dan sistem krono.
3. Perkembangan Emosi Remaja
           Emosi banyak berpengaruh pada fungsi-fungsi psikis seperti pengamatan. tanggapan, pemikiran, dan kehendak. Individu akan memberikan tanggapan positif terhadap suatu objek jika disertai emosi yang positif, dan memberikan tanggapan negatif terhadap objek jika disertai emosi yang negatif pula (Kemali, 2015:66).
           Golleman (dalam Kemali, 2015) menyebutkan beberapa ciri utama pikiran emosional remaja adalah sebagai berikut:
a. Respons yang cepat tetapi ceroboh
b. Mendahulukan perasaan kemudian pikiran
c. Memperlakukan realitas sebagai realitas                simbolik.
d. Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang.
e. Realitas yang ditentukan oleh keadaan
B. Faktor Yang Mempengaruhi Remaja
a. Faktor Internal 
1. Emosi yang tidak terkontrol
    Kurangnya kecerdasan remaja dalam mengontrol emosi yang meluap-lap berupa amarah, rasa sedih, maupun senang dapat membuatnya berperilaku di luar kesadaran atau akal sehat. Remaja lebih cenderung melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan akibatnya.
2. Kurangnya dasar-dasar keimanan
          Agama merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diajarkan karena agama merupakan salah satu benteng diri. Kurangnya pendidikan agama atau dasar-dasar keimanan dalam diri remaja dapat membuat seorang remaja melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma, moral, hukum, dan agama.
b. Faktor Eksternal 
1. Keluarga
      Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orang tua diterapkan. Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan di dalam keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja, ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya (Kemali, 2015:169). Seperti halnya dalam kasus penusukan ini, Andrian mengungkapkan bahwa ternyata ayahnya tengah menjadi seorang buronan karena terlibat kasus pembunuhan. Artinya, telah terjadi kesalahan dalam proses pendidikan oleh orang tua kepada anak.
2. Sekolah
       Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah rumah tangga. Karena itu ia cukup berperan dalam membina anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Dalam rangka pembinaan anak didik ke arah kedewasaan itu. kadang-kadang sekolah merupakan penyebab timbulnya kenakalan remaja. Hal ini mungkin bersumber dari guru, fasilitas pendidikan, norma-norma tingkah laku. interaksi dengan teman sekolah, dan lain sebagainya.
3. Media
         Di zaman canggih seperti saat ini iformasi semakin mudah di dapat baik dari media cetak maupun elektronik. Berbagai informasi yang bersifat positif atau negatif bisa dengan mudah kita ketahui. Banyaknya berita-berita seperti kekerasan, pembunuhan, tawuran, dan lain sebagainya merupakan salah satu pemicu seseorang dapat bertindak demikian terutama remaja. Usia remaja merupakan usia labil dimana remaja masih cenderung dipengaruhi oleh hal-hal atau informasi yang diperolehnya tanpa mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya.
C. Solusi Permasalahan Remaja 
     Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengubah kepribadian remaja yang emosional dan mengatasi prilaku yang negatif adalah sebagai berikut:
a. Memberikan Pendidikan Agama
b. Keteladanan Keluarga
c. Peran sekolah
d. Peran Lingkungan Sosial











Komentar

Postingan Populer